Angpao


Dalam kehidupan sehari-hari, jika ada tetangga kita yang meninggal dunia, maka kebanyakan dari kita tergerak untuk memberikan sumbangan terutama dalam bentuk materi berupa uang, beras, gula, dan sebagainya.

Namun, umumnya sumbangan yang kita berikan untuk tetangga yang salah seorang keluarganya meninggal dunia biasanya ala kadarnya, sangat berbeda dengan sumbangan yang kita berikan untuk orang yang sedang punya hajatan perkawinan. Kebanyakan orang akan saling jor-joran untuk memberikan sumbangan, tak lupa memberikan nama lengkap di amplop, agar sang mempelai mengetahui kalau ini dari Bapak A, atau Ibu B misalnya.

Padahal kalau kita pikir lebih jauh, bukankah sesungguhnya orang yang sedang kesusahan karena ditinggal salah seorang anggota keluarganya pergi untuk selama-lamanya, jauh lebih membutuhkan, karena kejadian tersebut kan tidak direncanakan sehingga tentu tidak ada persiapan sama sekali.

Sedangkan orang kalau mau kawin umumnya pasti memiliki persiapan, bahkan beberapa tahun atau beberapa bulan sebelumnya semua sudah dipersiapkan, mulai dari kebutuhan untuk lamaran, perhiasan calon istri, sewa gedung, atau tenda kalau diadakan di rumah, bikin undangan, dan sebagainya.

Menurut saya penyebab semua ini adalah karena di masyarakat kita masih ada sifat kepingin dipuji, disanjung, dibilang kaya, dan seterusnya. Sehingga apapun yang bisa mengundang pujian dari orang lain pasti akan diusahakan semaksimal mungkin. Atau mungkin takut kalau dulu pernah disumbang Rp. 50 ribu oleh Bapak A misalnya, ketika seseorang menikahkan anaknya, maka ketika diundang oleh Bapak A ke perkawinan anaknya ya harus mengembalikan Rp. 50 ribu, atau bahkan kalau bisa lebih. Disini terlihat sekali ada nuansa ketidakikhlasan, dimana berarti kebanyakan dari kita ketika memberikan sumbangan untuk orang menikah, di dalam hati kita masih ada keinginan agar kelak sumbangan itu dapat kembali, minimal sama dengan yang telah kita keluarkan.

Dari sisi pemilik hajat pun juga demikian, kebanyakan berharap agar modal yang dikeluarkan untuk menikahkan anaknya, bisa kembali dari terkumpulnya sumbangan-sumbangan dari undangan.

Sering saya mendengar kalau ada seseorang diundang ke pernikahan, umumnya menggerutu “Buwuh maneh, buwuh maneh”. Maksudnya keluar uang lagi untuk menyumbang (memberi angpao) untuk si pengantin.

Padahal kalau kita kembalikan ke ajaran agama kita, apapun agama kita, sesungguhnya segala bentuk pemberian kita ke orang lain nilainya terletak pada keikhlasan kita disamping manfaat bagi orang yang menerimanya, bukannya besar sumbanganya.

Oleh karena itu alangkah lebih bermanfaatnya jika kita memberikan sumbangan lebih besar bagi orang yang sedang kesusahan dibandingkan dengan jika kita menyumbang ketika diundang ke hajatan perkawinan. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah keikhlasan kita.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s