Dan Tanggapun Menyimpan Makna…


Sore itu tampak dua orang, ayah dan anak, duduk di teras samping rumah mereka. Si anak sesekali tampak meringis, tadi siang dia baru saja terjatuh dari tangga sekolahnya. Si ayah tersenyum menyaksikan kondisi anaknya tersebut.

“Anakku, tahukah engkau makna dari sebuah tangga?”, tanya si ayah tiba-tiba.

“Maksud ayah?”, si anak balik bertanya.

“Pernahkah kau berpikir dibalik kekokohan sebuah tangga, tersimpan makna yang patut menjadi bahan renungan untuk kita menjalani hidup?”, jawab si ayah masih dengan nada bertanya.

“Apakah itu ayah?, beritahukanlah padaku”, ujar si anak meminta penjelasan.

“Hidup ini ibarat menaiki anak per anak tiap tangga anakku, selangkah demi selangkah kau tegakkan pijakan kakimu pada tiap anak tangga. Adakalanya suatu ketika engkau kelelahan saat menitinya, adakalanya bahkan engkau terjatuh, dan harus mengulang kembali meniti tangga yang sama, bahkan adakalanya tangga itu tak mulus, ada rumput liar dan duri yang tumbuh diselanya”, si ayah diam sejenak

“Tapi apapun yang terjadi anakku, tetaplah kau meniti tiap pijakannya, teruslah melangkah hingga anak tangga yang terakhir. Karena setelahnya akan kau temukan apa yang kau tuju. Jangan sekali-kali dipertengahan langkahmu, engkau berbalik menuruninya, jangan sekali-kali engkau enggan melangkahkan kakimu pada anak tangga selanjutnya hanya karena ada rumput liar ataupun duri menghalang langkahmu. Ambil, cabut, dan singkirkan. Teruslah melangkah”, lanjut si ayah.

“Lalu berapa banyak anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai yang dituju ayah?”, si anak kembali bertanya.

“Ah anakku, tak perlu mempertanyakan berapa banyak anak tangga yang harus dilalui, karena tiap pribadi akan melalui jumlah anak tangga yang berbeda. Ada yang pada awalnya cepat saat pertama-tama melangkah, namun kemudian melambat dipertengahan hingga mencapai akhir. Ada yang tergesa-gesa berlari mendaki pada awalnya, kemudian tergelincir jatuh dan harus kembali melewati tangga semula karena kurang kehati-hatian. Tapi ada juga yang melangkah mantap sejak awal bahkan mampu meloncat dibeberapa anak tangga. Tergantung dari kegesitan dan ketabahanmu Nak!”, pertegas si ayah.

“Aku jadi takut melangkahkan kakiku menaiki anak tangga itu Ayah!” tukas si anak.

“Kenapa kau jadi takut anakku?”, tanya si ayah.

“Aku takut apabila aku tak mampu mencapai akhir dari tangga itu, Ayah. Aku takut dipertengahan aku merasa kelelahan, bahkan tergelincir jatuh”, sahut si anak menyiratkan keraguannya.

“Tak perlu takut anakku, cobalah melangkah menaiki anak tangga itu satu persatu, perlahan saja, telitilah apa yang kau temukan pada tiap anak tangga yang kau lalui, perhatikan kondisinya, catatlah dalam batinmu keadaannya. Jika diantara anak tangga itu kau temukan rumput liar dan duri penghalang, jangan ragu untuk menyingkirkannya dengan seksama”, si ayah dengan sabar menjelaskan.

“Ketika engkau merasa kelelahan, tak ada salahnya engkau berhenti sejenak, tapi bukan untuk turun dari anak tangga yang telah engkau lewati, beristirahatlah pada anak tangga itu, sambil merenungkan telah berapa banyak anak tangga terlalui, berapa banyak pelajaran hidup yang kau terima dalam menapaki tiap tangga itu. Dan ketika rasa lelah itu memudar, bangkitlah kembali untuk melanjutkan perjalananmu”, ujar si ayah lagi.

“Hmm…Ayah, aku mengerti maksudnya. Tangga itu ibarat perjalanan kita menapaki kehidupan ini kan?”, tukas si anak.

“Iya anakku, kamu pintar”, jawab si ayah sambil tersenyum.

“Baiklah ayah, akan ku coba menapaki tiap anak tangga itu. Akan kubuktikan pada ayah kelak, aku akan berhasil menapakinya hingga pada anak tangga tertingginya. Dimana seperti yang ayah katakan, ada tujuan akhir disana. Rumput liar dan duri diantaranya hanyalah sebagai pemanis saja dalam perjalanan itu, kelelahan bukanlah suatu masalah yang besar untukku. Aku pasti akan sampai pada anak tangga tertingginya ayah!”, tekad si anak.

“Bagus anakku!, itulah yang ayah inginkan darimu. Tak mudah goyah dan mantap menjalani hidup”, kata si ayah sambil tersenyum bangga mendengar tekad si anak.

“Semoga tercapai keinginanmu dan engkau bisa tegar menyiasati hidupmu anakku”, bisik si ayah lirih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s